Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Hikmah mengapa daging anjing diharamkan


Setiap yang Allah perintahkan atau larang pasti terdapat hikmah atasnya. Jika Allah mengharamkan sesuatu pasti terdapat keburukan di dalamnya, jika Allah menghalalkan sesuatu pasti ada kebaikan di dalamnya untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Kali ini, kita akan membahas mengapa daging anjing diharamkan? adakah sebab ilmiah yang dapat kita ketahui? Berikut penjelasannya.

Prof. Thabârah dalam kitab Rûh ad-Dîn al-Islâmi menyatakan, "Di antara hukum Islam bagi perlindungan badan adalah penetapan najisnya anjing. Ini adalah mu'jizat ilmiyah yang dimiliki Islam yang mendahului kedokteran modern. Kedokteran modern menetapkan bahwa anjing menyebarkan banyak penyakit kepada manusia, karena anjing mengandung cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia terjangkit penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan. Sudah ditetapkan bahwa seluruh anjing tidak lepas dari cacing pita sehingga wajib menjauhkannya dari semua yang berhubungan dengan makanan dan minuman manusia. [Taudhîhul-Ahkam, Syaikh Ali Bassâm, 1/137].


Benarlah sabda Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam:


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِ كُم فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ


Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka tumpahkanlah, lalu cucilah 7 kali. [HR al-Bukhâri no 418, Muslim no. 422.]


Dalam riwayat lain:


طَهُروْرُ إِنَاَءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, " Sucinya bejana kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah" [HR Muslim no. 420 dan Ahmad 2/427]


مَنِ اقْتَنَى كَمبًا إِلاَّ كَلْبَ مَا شِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمِ قِيْرَاطُ


Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qirâth (satu qirâth adalah sebesar gunung Uhud)." [HR. Muslim no. 2941].


Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :


أَيُّمَا أَهلِ دَارٍ اتَّخَذُواكَلْبُا إِلاَّ كَلْب مَا شِيَةٍ أَوْ كَلبَ صَا ئِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيْرَاطَانِ


Penghuni rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirâth.[HR. Muslim no. 2945].


Demikian juga Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيْرَاطُ إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ اَوْ مَا شِيَةٍ


Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan shalehnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qirâth, selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak. [HR Muslim no. 2949].


Dari Abu Mas'ûd Radhiyallahu 'anhu beliau berkata:


أَنَّ رَسُو لَاللَّهِ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلوَانِ الْكَا هِنِ


Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun. [Diriwayatkan oleh Imam, Ahmad 4/118-119, 120, al-Bukhâri 7/28 dan Muslim no. 1567.]


Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu yang berbunyi, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:


كُلُّ ذِينَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامُ


Semua yang memiliki gigi taring dari hewan buas maka memakannya haram. [HR Muslim 1933]


Meskipun demikian, bukan berarti apa yang Allah ciptakan adalah sia-sia atau tidak ada manfaatnya. Karena Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang haq (benar), dan Allah hendak menguji dari hamba-hambaNya siapa yang terbaik perbuatannya, dan Allah menguji siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang masih ragu-ragu.


Lalu apa manfaat anjing? binatang yang satu ini dapat dimanfaatkan untuk menjaga hewan ternak atau juga bisa dijadikan hewan pemburu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ


"Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak dan anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak satu qiroth (satu qiroth adalah sebesar gunung uhud)." [HR. Muslim]. 'Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, "Atau anjing untuk menjaga tanaman."


Jadi anjing dapat dimanfaatkan untuk menjaga binatang ternak dan khusus untuk berburu setelah dilatih terlebih dahulu. "Jika kamu melepas anjingmu, maka sebutlah asma' Allah atasnya (Bissmillah), maka jika anjing itu menangkap untuk kamu dan kamu dapati dia masih hidup, maka sembelihlah." [HR. Bukhari dan Muslim]


*Keterangan foto: Cacing-cacing pita kotor nan mematikan di celah daging anjing


Wallahu a'lam bishshawab

Selasa, 02 Oktober 2012

Bisa Jadi Kamu Benci Sesuatu Tapi Itu Baik Bagimu




“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah k mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:

1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah swt, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.

Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.

Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah k bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.

Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.

2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.

3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah k, atau memilih sesuatu yang tidak Allah k pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.

4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah k pilihkan untuk dirinya, Allah l pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah k pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah l akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah k pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.

5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah k telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah k maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah k. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah l dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.

Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.

(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa`id hal. 153-155)

(Ibnul Qayyim)

Rabu, 24 November 2010

MENGGAPAI CINTA ALLAH




..., maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, ....( Al Maidah : 54 )






Setiap mukmin pasti mengharapkan dicintai Allah, mencintai Allah, dan menjadikan Allah sebagai kekasih di dalam hidupnya .


Ada beragam jalan seorang salik dalam mengarungi perjalanan rohaninya untuk dapat segera sampai kepada tujuan akhir yaitu cinta dan ridho Allah swt.
Sebagian  melakukannya dengan banyak mengerjakan amalan-amalan ibadah, seperti sholat dan puasa baik  yang fardhu maupun yang disunnahkan.
Namun mungkin kita tidak mampu melakukan itu semua karena keterbatasan fisik ataupun waktu yang banyak tersita oleh beban tugas dan tanggung jawab pekerjaan.
Lalu bagaimanakah yang bisa dilakukan agar kita tidak tertinggal oleh mereka yang kuat dalam beribadah ?


Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Dermawan, Allah tidak membebani hambaNya diluar batas kemampuaannya, 
masih ada jalan lain yang bisa kita lewati bagi kita yang lemah ini, yaitu dengan jalan cinta dan jalan kedermawanan.  Disamping harus  tetap berusaha menyempurnakan amalan amalan ibadah yang telah difardhukan oleh Allah swt.


Jalan cinta merupakan salah satu jalan cepat seorang hamba untuk segera sampai kepada Allah SWT,  jalan ini adalah jalannya  orang-orang yang dipilih.  Seorang hamba mencintai Allah, hingga cintanya benar kemudian Allah cinta kepadanya, dan apabila Allah telah mencintai  hamba-Nya maka Allah akan mendekatkan dia kepada-Nya, menolongnya dan menjaganya.
Marilah kita coba mengikuti lorong mereka ....


Lalu bagaimanakah sebenarnya kedudukan kita dihadapan Allah ? apakah kita sudah mencintai Allah sebagaimana mestinya ? marilah kita renungkan sabda nabi berikut ini :
Rasulullah bersabda yang artinya:
“Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya dia mengetahui kedudukan Allah di dalam hatinya”

Agar kita dapat mencintai Allah, maka  kita awali dengan banyak mengingat Allah atau berdzikir, baik dengan lisan, hati, fikiran dan perbuatan kita, Bagaimana cinta akan tumbuh kalau kita tidak pernah mengingat-Nya.

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman kepada Dawud “Wahai Dawud, ketahuilah bahwa Dzikir-Ku kuperuntukkan para pendzikir, syurga-Ku buat orang-orang yang taat, cinta-Ku buat orang-orang yang merindukan-Ku, sedangkan Diriku sendiri kuistimewakan buat mereka yang mencintai-Ku”.


dari [Anas] radliyallahu'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau riwayatkan dari Rabbnya (hadis qudsi), Allah berfirman: "Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." ( Shahih Bukhari : 6982 )

Sesungguhnya kebajikan itu ada pada mengagungkan perintah Allah dan sifat welas asih terhadap semua makhluk-Nya. Kita harus mengamalkan asma Allah yang Maha Pengasih di dalam kehidupan kita sehari-hari dengan mencintai makhluk-Nya yang ada di bumi.


Allah mewahyukan kepada Musa," Bersikap welas asihlah, hingga Aku bersikap welas asih kepadamu. Sesungguhnya Aku Maha Pengasih. Barang siapa bersikap welas asih, aku akan mengasihi dan memasukkannya ke dalam surga."


 Nabi SAW beliau bersabda : "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh ar Rahman, oleh karena itu kasihilah penduduk bumi maka niscaya penduduk langit akan mengasihi kalian. Dan rasa kasihan adalah sebuah jalan dari ar Rahman, barangsiapa yang menyambungnya maka ia akan tersambung untuknya, dan barangsiapa memutuskannya maka ia akan terputus untuknya." (HR. Ahmad) 

Sesungguhnya kaum sholihin dari umat ini bukannya mereka memasuki surga dengan sebab banyaknya sholat dan berpuasa saja, tetapi juga dengan sebab memiliki kesejahteraan hati, kedermawanan juga sifat kasih sayang terhadap orang islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Ta'ala telah berfirman: 'Sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling merapatkan barisan karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling berkorban (untuk membantu yang lain) karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling menolong karena Aku.'" (Musnad ahmad :18621)

Dari Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang niscaya dia akan mendapatkan manisnya keimanan, yaitu; orang yang mencintai seseorang di mana tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah 'azza wajalla, orang yang lebih mencintai Allah dan RasulNya daripada selain mereka berdua, dan orang yang lebih suka dicampakkan ke dalam Neraka daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya." (Sunan Nasa’i : 4902)

Marilah kita berusaha agar selalu mencintai Allah di dalam hidup kita, syarat cinta yaitu dengan kita selalu punya keinginan untuk selalu bersama Dzat yang kita cintai, Tidak dipalingkan dari-Nya, baik oleh dunia, akherat, maupun makhluk. Relalah terhadap segala perlakuan-Nya, ridha terhadap segala keputusan-Nya, bersabar atas segala cobaan-Nya. bagi orang mukmin telah ditetapkan bahwa Allah tidak mengujinya melainkan demi kemaslahatannya, baik di dunia maupun di akherat, hingga dia ridho terhadap tuhannya.

Sungguh cinta Allah kepada hamba-Nya lebih besar dibandingkan dengan cinta hamba kepada Allah SWT.

Semoga Allah menjadikan hati kita tentram dengan mencintai-Nya , dan merasa cukup hanya dengan cinta-Nya.

“Ya Allah…, anugerahkanlah kepada kami, manisnya cinta-Mu 
dan lezatnya berdekatan dengan-Mu.

Ya Alllah…., Karuniakanlah kepada kami anugerah dzikir, 
dan jadikanlah kami mantap di dalamnya.

Ya Allah…
Betapa banyak nikmat-Mu padaku, 
tapi sedikit sekali syukurku pada-Mu
Betapa banyak maksiatku pada-Mu, 
tapi Engkau tetap menungguku tu’ kembali pada-Mu

Ya Allah…
Betapa dekatnya Engkau, 
namun tiada aku rasakan kehadiran-mu
Betapa besar cinta-Mu pada hamba-Mu,. 
Namun ku tak jua menghiraukan-Mu

Ya Allah..
Tunjuki aku kepada pintu-Mu
Agar aku dapat mencintai-Mu….
Mencintai kekasih-kekasih-Mu
Dan mencintai ketaatan kepada-Mu

Ya Allah, Tuhanku
Seburuk apapun hamba dihadapan-Mu
Engkau adalah kekasih terindah bagi diriku.


Kamis, 18 November 2010

TANDA-TANDA ORANG YANG MENYOMBONGKAN PERILAKUNYA DI HADAPAN ALLAH

"Sebagian dari tanda-tanda orang yang senantiasa membanggakan amal perbuatannya, berarti kurang mempunyai pengharapan terhadap rahmat Allah, tatkala terjadi kekhilafan pada dirinya"


Manusia mempunyai sifat khilaf dan lupa. Sepandai apapun manusia, sekali waktu ia pasti berbuat khilaf atau lupa. Karena itu, sebagai makhluk yang lemah kita harus senantiasa memohon rahmat dan ampunan-Nya atas segala kekhilafan dan kesalahan kita, baik yang sengaja maupun yang tidak.


Apabila ada orang yang berbuat kekhilafan kemudian tidak mau memohon ampunan dari Allah, bahkan dia lalu menyombongkan diri atas amal perbuatannya, maka orang seperti ini disebut kurang  mempunyai pengharapan terhadap rahmat Allah, padahal dalam Al Qur'an disebutkan bahwa sesungguhnya tiada berputus asa dari mengharap rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.


Adapun tanda-tanda orang yang celaka, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Ibnul Qoyim Al-Jauzi adalah sebagai berikut :

  • semakin bertambah ilmunya, semakin bertambah pula kesombongannya
  • setiap bertambah amalnya, semakin bertambah kebanggaannya dan memandang rendah orang lain, dan bertambah prasangka baiknya terhadap diri sendiri
  • semakin bertambah usianya, semakin bertambah rakus dan serakahnya kepada dunia
  • semakin menumpuk harta kekayaannya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya
  • semakin meningkat derajat dan pangkatnya, semakin meninggkat pula kesombongan dan keangkuhannya. 



لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذََرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan  (HR.Muslim).
( dikutip dari bukunya : Syaikh Ibnu 'Atho'illah As Sukandari )

Rabu, 10 November 2010

taubat dan istighfar


TAUBAT DAN ISTIGHFAR


Wahai saudaraku, hendaknya kita segera bertaubat kepada Allah. Bertaubat dari segala dosa yang kecil dan yang besar, yang lahir (tampak) maupun yang bathin (tersembunyi), sebab taubat adalah langkah pertama seorang hamba dalam melintasi jalan Allah. Taubat adalah azas segala maqom (kedudukan dihadapan Allah). Allah mencintai hambaNya yang selalu bertaubat, seperti dalam firmanNya
“sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. 2:222)
“Dia menerima taubat hamba-hambaNya dan mengampuni kesalahan-kesalahan (mereka) (QS. 42:25)


Dalam hadist disebutkan :
“Orang yang bertaubat adalah seperti orang yang tidak ada dosanya”
Ketahuilah bahwa taubat tidak sah kecuali dengan meninggalkan dosa, menyesal atas perbuatannya, serta ber’azam (bertekad) untuk tidak mengulanginya lagi sepanjang hidupnya.
Orang yang benar-benar bertaubat dapat dikenali dengan berbagai tanda, antara lain : kepekaan hati, banyak menangis, mantap dalam keta’atan, menjauhi teman-teman busuk, serta tempat tempat terlarang.


Jangan sekali-kali berlama-lama dalam perbuatan dosa, yakni tidak bertaubat segera setelah melakukannya. Adalah kewajiban tiap mukmin untuk berusaha menghindarkan diri dari segala perbuatan dosa, yang kecil apalagi yang besar, sebagaimana ia menghindari diri dari api yang membakar.


Janganlah ia memilih perbuatan dosa, menuju kepadanya, membicarakannya sebelum terjadi ataupun merasa bangga (gembira) setelah terjadinya. Bahkan yang wajib dilakukannya adalah merahasiakannya, merasa benci kepadanya serta bertobat darinya.
Dan hendaknya anda sering-sering memperbaharui taubat, sebab dosa-dosa itu amat banyak jenisnya, sehingga amat sulit sama sekali seseorang untuk secara lahir bathin terhindar darinya betapapun baik keadaannya, lurus jalannya serta terus menerus keta’aatannya.
Cukup kiranya bagi kita bahwa Rasulullah SAW, yang ishmah (penjagaan Allah terhadap) beliau serta kesempurnaannya yang mutlak namun beliau bertaubat dan beristighfar lebih dari tujuh puluh kali setiap harinya.
Hendaknya kita memperbanyak istighfar pada saat malam maupun siang hari, terutama diakhir malam menjelang fajar.

“Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).


Renungkanlah hadist qudsi berikut ini :


Telah diwahyukan Allah kepada Daud AS “ hai daud, sampaikan berita gembira kepada pelaku dosa dan berita ancaman kepada para shiddiqin dan “, Daud bertanya “ wahai Tuhanku, bagaimana aku mengancam para shiddiqin dan menggembirakan para pelaku dosa?” Allah berfirman,” Gembirakan para pelaku dosa bahwa tidak satupun dosa terlau besar bagiku untuk kuampuni, dan peringatkan para shiddiqin agar mereka tidak ujub (congkak) karena amalan-amalan mereka, sebab tidak seorangpun akan selamat menghadapi keadilan dan perhitunganku, Hai Daud, telah kutetapkan rahmat atas diriku dan maghfirah untuk siapa memintanya dariku. Aku mengampuni segala dosa, yang kecil maupun yang besar, tak satupun dosa terlalu besar untuk-Ku, maka janganlah kamu membinasakan dirimu dan jangan putus asa dari rahmatKu. RahmatKu meliputi segala sesuatu, rahmatku mendahului murkaKu, khazanah-khazanah lelangit dan bumi berada dalam genggamanKu, semua kebaikan berada di tanganKu tak sesuatupun Kucipta disebabkan kebutuhanKu padanya, tetapi semata-mata agar diketahui kudrat (kemampuan) Ku dan agar orang-orang yang menggunakan fikirnya dapat mengetahui tadbir (pengelolaan) dan ciptaanKu., Hai Daud, dengarlah dariKu sebab hanya kebenaran yang Ku ucapkan, barang siapa diantara hamba-hambaKu menemuiku, sedangkan ia mencemaskan azabku, niscaya Aku takkan mengazabnya. Dengarkan lagi dariKu dan hanya kebenaranlah yang Ku ucapkan, barang siapa diantara hamba-hambaKu menemuiku, sedang ia merasa malu disebabkan dosa-dosanya, niscaya akan Kurahasiakan itu semua dari (penglihatan) malaikat pencatat dan akupun takkan menanyakannya kepadanya. Hai Daud, dengarlah dariKu dan hanya kebenaranlah yang Kuucapkan, seandainya seseorang dari hamba-hambaKu melakukan dosa sebanyak isi dunia seluruhnya seraya ia terus menerus melakukannya, kemudian ia menyesal dan beristighfar kepadaKu satu kali saja, sedemikian sehingga Aku mengetahui dari lubuk hatinya bahwa ia tidak ingin kembali kepada dosa-dosanya itu untuk selama-lamanya, niscaya akan Kucampakkan seluruh dosanya lebih cepat dari menukiknya seekor burung dari angkasa ke bumi,” Daud berkata, “Ya Tuhanku, segala puji bagiMu atas semua itu. Tidak patut bagi yang mengenal-Mu berputus asa dari ampunan-Mu”
Saudaraku, sungguh betapa Maha Dermawan dan penyayangnya Allah kepada kita. Janganlah kita menjadi orang yang berputus dari rahmat Allah.
“Ya Allah bimbinglah kami agar dapat bertaubat kepada-Mu dan wafatkan kami bersama golongan hamba-hamba-Mu yang banyak berbuat bakti”


CONTOH BACAAN ISTIGHFAR
1.
 

ASTAGHFIRULLAAHAL’AZHIIM ALLADZII LAA ILAAHAILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM WA ATUUBU ILAIH

Maksudnya:

aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang selalu hidup dan senantiasa mengurus makhlukNya. Aku bertaubat kepadaNya 

“Barangsiapa ketika menuju tempat  tidurnya mengucapkan ; ASTAGHFIRULLAAHAL’AZHIIM ALLADZII LAA ILAAHAILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM WA ATUUBU ILAIH ( aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang selalu hidup dan senantiasa mengurus makhlukNya. Aku bertaubat kepadaNya) sebanyak tiga kali maka Allah mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti  buih lautan, walaupun sebanyak daun pohon, walaupun sebanyak kerikil, walaupun sebanyak hari-hari di dunia.” ( Sunan Tirmidzi : 3319 )


2. SAYYIDUL ISTIGHFAR

ALLAHUMMA ANTA ROBBII,LAA ILAAHA ILLAA ANTA,KHOLAQTANII WA ANA 'ABDUKA WA ANA 'ALAA 'AHDIKA WA WA'DIKA MAA ISTATHO'TU,A'UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA SHANA'TU ABUU U LAKA BINI'MATIKA 'ALAYYA WA ABUU U BIDZANBI,FAGHFIR LII FA INNAHU LAA YAGHFIRU DZUNUUBA ILLAA ANTA.

" Ya Allah,Engkau Rabbku. Tiada Tuhan selain Engkau,Engkau yang menciptakanku,aku hambaMU dan aku selalu berada dalam genggamanMU dan ketetapanMU,tiada kesanggupanku. Aku berlindung kepadMU dari kejahatan yang aku perbuat. Aku mengaku padaMU,nikmatMU atasku,dan aku mengakui padaMU atas dosaku,maka ampunilah aku. sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa2 kecuali Engkau."

Barangsiapa membaca pada malam hari dan ia meninggal dunia sebelum pagi,maka ia akan masuk surga.(Bukhori)


Rabu, 13 Oktober 2010

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])


Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”


Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).


Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.


al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”


Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.


Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.
Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”


Saya [penyusun artikel] berkata: Kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? Beginikah seorang salafi, wahai saudaraku? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” 


Disarikan dari al-Buka’ min Khas-yatillah, asbabuhu wa mawani’uhu wa thuruq tahshilihi, hal. 4-13 karya Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit, berupa file word.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India